Agen Casino Online Agen Judi Poker Agen Casino Sbobet Agen Poker Online Agen Bola Terpercaya Agen Poker Terpercaya Agen Poker Terbaik

Euro 2016, Sejak Kapan Kehadiran Pemain Imigran Marak?

Euro 2016, Sejak Kapan Kehadiran Pemain Imigran Marak?

Euro 2016, Sejak Kapan Kehadiran Pemain Imigran Marak?

 

 

 

 

 

 

Kumpulan Agen Casino Online Terpercaya – Jakarta – Perhelatan Piala Eropa bukan lagi milik pemain-pemain Eropa tulen saja. Beberapa pemain yang membela tim nasional suatu negara adalah keturunan imigran. Sebut saja Mesut Oezil—pemain keturunan Turki di tim nasional Jerman—atau Romelu Lukaku, pemain berdarah Kongo di tim nasional Belgia.

Tapi pemain imigran bukan fenomena baru dalam sepak bola. Jauh sebelum sepak bola menjadi permainan yang bergelimang uang seperti sekarang, Alfredo Di Stéfano boleh dibilang salah satunya.

Ia bagian dari generasi pertama imigran Italia yang datang ke Argentina pada awal abad ke-19. Di negeri baru, Alfredo Di Stéfano Senior menikah dengan perempuan Argentina, Eulalia Laulhé Gilmont–yang juga imigran dengan campuran Prancis dan Irlandia.

Di Stéfano, yang memiliki bakat sepak bola, kemudian membela Argentina pada 1947, lalu Kolombia, dan sejak 1957 bermain di tim nasional Spanyol–setelah dia berganti kewarganegaraan.

Pemain lainnya Eusebio. Pemain Portugal ini berasal dari Mozambik, Afrika—yang merupakan koloni negeri itu. Dia mengharumkan Portugal dengan aksi kaki-kaki, juga kepala, di lapangan hijau.

Namun, secara masif, Prancis bolehlah disebut sebagai perintis tim penuh warna. Pada Piala Dunia 1998, manajer saat itu, Aimé Jacquet, mengambil pemain-pemain yang luar biasa, yang mewakili seluruh masyarakat di negeri itu: blanc, black, dan beur atau orang kulit putih, hitam, dan komunitas Arab. Hasilnya, mereka menjadi juara dunia untuk pertama kalinya.

Pada perhelatan Piala Eropa di Prancis yang akan digelar Jumat pekan ini hingga 10 Juli nanti, hampir semua tim punya pemain yang berasal dari kaum imigran. Mereka adalah anak-anak pendatang yang hijrah ke Eropa beberapa tahun atau puluhan tahun silam.

Hasilnya lihat saja di tim Jerman. Tak semua pemain berambut pirang dan berkulit putih. Selain Oezil, ada Sami Khedira, yang keturunan Tunisia, dan Emre Can, yang juga keturunan Turki. Lebih kontras lagi warna kulit Jerome Boateng–yang memiliki darah Ghana di tubuhnya.

Di negara lain juga banyak. Inggris diam-diam menampung pula pemain yang datang dari negara lain. Raheem Sterling, pemain Manchester City, merupakan pendatang dari Jamaika. Dia meneruskan tradisi sebelumnya, seperti John Barnes–legenda Liverpool yang juga datang dari Jamaika.

Tim lain lebih berwarna. Negara seperti Belgia, Swiss, dan Prancis memiliki skuad yang separuhnya diisi pemain-pemain pendatang. Paling tidak, dari hitungan sebelum daftar pemain resmi diumumkan, ada 86 pemain imigran dari 552 pemain yang berlaga pada Piala Eropa kali ini.

Empat tahun lalu, saat Piala Eropa digelar di Ukraina dan Polandia, jumlah pemain imigran hanya berada di angka 25 orang. Mereka terdiri atas 19 pemain keturunan Afrika dan 6 pemain keturunan Arab atau Turki. Di Swiss dan Austria delapan tahun lalu, jumlahnya lebih sedikit lagi, yakni 6 orang, yang masing-masing terbagi dalam dua tim: Turki dan Jerman.

Peningkatan jumlah itu dengan mudah ditunjuk sebabnya. Pertambahan usia para imigran yang masuk ke Eropa pada awal 1990-an adalah salah satu sebabnya.

Mereka imigran yang datang dari beberapa negara Balkan, yang menyingkir dari kampung halaman akibat terjadi konflik di sana. Gelombang migrasi inilah yang kemudian melahirkan generasi pemain seperti Adnan Januzaj–sayang, dia dicoret pelatih Belgia, Marc Wilmots–dan pemain-pemain asal Albania yang bermain untuk Swiss.

Gelombang migrasi itu merupakan yang terakhir merangsek ke Eropa, di samping tentu masuknya pengungsi Suriah dan negara-negara Afrika yang meledak tahun lalu.

Sebelumnya, serbuan imigran terjadi ketika pecah dua Perang Dunia dan saat ekonomi membaik seusai perang. Eropa, khususnya kawasan barat, memang menjadi tujuan para imigran demi mencari tanah yang menjanjikan. Pembukaan industri dan tambang, yang membutuhkan banyak pekerja, adalah salah satu sebabnya.

Para pendatang dari kawasan Afrika Utara dan negara di sekitarnya datang menjadi buruh di sana. Mereka merupakan pendatang yang melahirkan generasi pemain seperti Zinedine Zidane dan Mesut Oezil. Mereka adalah generasi kedua atau ketiga dari gelombang kedua migrasi itu.

Baca Juga : Guardiola Diklaim Tak Diizinkan Rekrut Pemain Bayern

Munculnya para pemain imigran itu juga turut mempengaruhi permainan. Jerman, misalnya. Sami Khedira pernah berujar, “Wajah sepak bola kami menjadi lebih menarik. Di depan, ada aroma Latin. Di tengah, muncul gaya yang lebih relaks seperti para pemain dari Eropa selatan. Tapi, di belakang, gaya Jerman dengan disiplin yang ketat tetap terlihat,” katanya. “Kami hanya ingin bermain dengan baik. Tak penting dari mana kami berasal.”

Kaum imigran menjadi sumber pemain yang bagus. Itu sebabnya, di beberapa negara Eropa, seperti Swiss, Belgia, dan Prancis, bermunculan klub sepak bola yang berisi pemain keturunan.